Romansa Pascal Wilmar, di Antara Cinta, Janji Setia, dan Air Mata

Romansa Pascal Wilmar, di Antara Cinta, Janji Setia, dan Air Mata

Bola.com, Jakarta – Pascal Wilmar merupakan sosok fenomenal di kancah bola voli Indonesia. Raihan berbagai prestasi level nasional maupun mancanegara mampu ditorehkannya. Periode 1993 adalah titik tertinggi dalam karier pria blasteran Belanda-Ambon tersebut.

Periode 1993 adalah sebuah romansa bagi Pascal. Prestasi, popularitas, hingga gelimang harta mampu diraihnya. Namun, semua kejayaan itu bukan datang tanpa sebab.

Pascal dan kawan-kawan mendapat panggilan negara untuk berlaga pada SEA Games di Singapura, Juni 1993. Totalitas dan perjuangan dalam membela panji negara membuat medali emas masuk genggaman. Mereka jadi yang terbaik setelah mengalahkan Thailand di partai puncak.

“Waktu lawan Thailand adalah memori yang paling indah. Setelah dipastikan menang, kami keliling lapangan sampai berguling-guling. Emosinya ketika itu sangat berbeda. Saya sejujurnya bangga sekali pada saat itu, ” Pascal bercerita kepada Bola.com.

Kesuksesan Pascal terus berlanjut ketika membela Jakarta di Pekan Olahraga Nasional (PON), tiga bulan berselang. Pengalaman bersua lawan-lawan berat dalam SEA Games Singapura, betul-betul dimanfaatkan oleh pria yang kini memiliki dua anak tersebut.

Dia dan rekan-rekannya mampu mengklaim medali emas pada PON 1993. Berbagai pujian mengalir untuknya. Dia dianggap sebagai sosok yang paling berjasa mengantarkan tim meraih prestasi.

“Tahun 1993 saya bermain di SEA Games dan PON. Ketika itu, semua orang mengenal saya di mana pun itu. Semua orang tahu Pascal Wilmar. Sampai akhirnya saya agak terganggu karena orang-orang selalu mengenali saya. Bahkan, ada seorang anak kecil yang kenal saya. Pada masa itu, menurut saya adalah titik tertinggi dalam prestasi dan kepopuleran,” ujar Pascal.

Memori manis yang dirasakan Pascal berlatar rasa cinta terhadap voli. Dia rela bekerja keras tanpa kenal lelah supaya bisa mewujudkan mimpi di kancah voli.

Pascal mengaku sudah menggeluti voli sejak usia belia. Dengan karunia postur gagah bak atlet profesional, ia yakin bisa jadi sosok berpengaruh untuk bangsa dalam olahraga tersebut.

“Saya sudah mulai belajar bermain voli sejak kelas enam SD. Namun, ketika itu belum ada arahan secara profesional. Setelah duduk di kelas satu SMA baru mulai berlatih secara intens. Saya sering berlari seorang diri di bukit, di area Semen Kujang, Cibinong, Bogor. Itu merupakan latihan fisik saya setiap harinya, agar bisa jadi yang terbaik,” beber Pascal.

Proses memang tak mengkhianati hasil. Perjuangan Pascal berbuah manis ketika ia dilirik salah satu akademi voli, di Sekolah Khusus Olahraga (SKO), Ragunan, yaitu Maluku.

“Kebetulan saya masuk di klub Maluku. Awalnya ada sepupu kakek datang ke rumah. Dia bilang, ini anak siapa? Bisa main voli gak? Kemudian ibu saya bilang, bisa. Lalu sejak itulah saya mulai diajak untuk menjalani latihan di Maluku. Setelah melihat permainan saya untuk kali pertama, mereka menganggap permainan saya bagus. Saya kemudian terus berlatih di sana secara rutin. Latihan seminggu tiga kali,” ucap Pascal.

Akademi Maluku menjadi benang merah Pascal Wilmar dalam kisah suksesnya sebagai atlet profesional. Di sanalah titik awal Pascal meniti karier hingga akhirnya berhasil mengangkat derajat dan mengharumkan nama bangsa.

Pascal memutuskan vakum dari dunia voli pada 2006. Ia sadar masa keemasannya telah berakhir karena menginjak usia 36 tahun pada periode itu. Dia mencoba peruntungan ke bidang lain demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada 2009, Pascal dan istrinya, yaitu Anna Pacaulima, terjun ke dunia asuransi. Namun sayang, jiwa Pascal bukan di dunia marketing. Ia tidak begitu lihai bersilat lidah demi melobi hati para pelanggan.

“Pada 2009 saya coba peruntungan di dunia asuransi bersama istri. Istri saya berhasil, tetapi saya tidak karena secara verbal saya tidak terlalu bisa karena kerja di asuransi harus pintar berbicara. Setelah itu, saya sempat terjun di dunia properti untuk jual beli rumah dan tanah. Beberapa ada yang berhasil dan saya bisa menghasilkan uang dari sana,” kata Pascal.

Meski sempat melalang buana ke berbagai bidang, takdir Pascal memang untuk voli. Memasuki 2013, dia mulai berpikir menjadi pelatih voli.

“Pada 2013 saya diajak kerja di perusahaan untuk membangun jaringan internet. Namun, waktu kerja saya menjadi tidak menentu. Pagi sampai malam saya bisa terus bekerja karena di sana ada targetnya. Kebetulan, ketika menjalani pekerjaan itu saya kenal seorang wartawan dari Bogor. Dia selalu mengajak saya untuk melatih tim voli. Ketika itu saya tidak terlalu peduli karena fokus ke kerjaan,” ujar Pascal.

“Akan tetapi, setelah itu perasaan dalam hati saya untuk kembali ke dunia voli kembali muncul. Lalu, saya kemudian menjalani tes karena mantan pemain belum tentu bisa jadi pelatih. Saya menjalani percobaan dan berhasil menjalaninya selama satu tahun,” tutur Pascal.

Kemampuan memimpin tim membuat Pascal dianugerahi kepercayaan. Dia didapuk sebagai asisten pelatih Jakarta BNI Taplus yang menjadi peserta Proliga, yaitu kompetisi voli terbesar di Indonesia.

Kendati demikian, Pascal tetap peduli dengan klub masa kecil di sela-sela kesibukannya. Rasa cita dan kesetiaan membuatnya tak bagai kacang lupa kulit. Ia rela menjadi pelatih Maluku meski tanpa bayaran sepeser pun.

“Maluku adalah klub yang berjasa menjadikan saya atlet nasional. Di sana saya banyak menuai ilmu. Hitung-hitung balas budi, saya pun rela tidak digaji. Saya juga memiliki harapan bisa memotivasi anak-anaka di Maluku untuk menjadi pemain hebat. Itu adalah kepuasan batin tersendiri jika bisa membawa mereka berhasil,” ujar Pascal.

Rasa cinta dan janji setia Pascal Wilmar terhadap industri voli sempat membuatnya berurai air mata. Ketika gagal masuk seleksi timnas senior pada 1991, dia mengakui situasi itu adalah titik terendah selama kariernya.

Pascal begitu terpukul. Sempat terbersit keinginan ingin menyudahi petualangan di dunia voli. Sosok yang kerap bermain sebagai spiker itu menganggap dirinya layak untuk membela Indonesia.

“Tahun 91, saya dapat panggilan pelatnas SEA Games. Namun, tahun ini bukanlah tahun saya karena pada saat seleksi terakhir saya tidak masuk ke-12 besar. Saya sangat sedih dan itu pengalaman paling buruk dalam hidup saya,” ujar Pascal.

“Padahal, ketika itu saya merasa layak masuk tim. Namun, pelatih berkata lain dan saya tidak bisa berbuat apapun. Itu adalah momen yang membuat saya sangat terpukul dan ingin berhenti main voli,” sambung Pascal.

Beruntung Pascal memiliki seorang ibu yang penyayang. Beliau adalah sosok yang membangkitkan semangat anaknya ketika tengah terpuruk.

“Keinginan saya untuk berhenti dari voli terhalang oleh Ibu. Ibu saya tidak setuju dan memarahi saya. Dia berkata saya tidak boleh menyerah dan harus terus berlatih. Lalu saya akhirnya mengikuti saran dia dan terus berjuang. Ternyata, itu berakhir manis,” pungkas Pascal.

Pascal enggan memungkiri kesuksesannya sebagai atlet voli adalah berkat peran sang ibu. Dia menganggap wanita asal Belanda adalah sosok yang paling berjasa untuk dirinya.

“Ibu saya adalah sosok yang paling berjasa. Memang terkadang dia terlalu cerewet, tetapi saya bangga dengan dia karena dia selalu mendukung ketika saya dalam titik terendah,” ujar Pascal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *